Thursday, May 31, 2012

Who to blame?

Saya sedang asik menonton TV bersama orang tua saya saat sahabat saya tercinta, Evey, menelpon saya dengan nada emosi. Evey menceritakan kepada saya hal yang baru saja dialaminya, hal yang kurang menyenangkan bagi dirinya.

Sebelumnya saya ingin bercerita sedikit dengan Evey. Evey adalah seorang humas yang bekerja disebuah agency yang melayani beberapa perusahaan yang cukup ternama.

Evey bercerita bahwa dia berencana untuk mengadakan acara yang berhubungan dengan kemanusiaan dan dia berencana untuk mengundang setidaknya dua wartawan foto untuk meliput acara tersebut.

Lalu Evey menghubungi teman sekantornya yang biasanya bertugas untuk mengundang para wartawan untuk menghadiri event yang diadakan oleh kantor Evey untuk beberapa perusahaan. Evey meminta temannya tersebut untuk mengundang dua orang wartawan foto untuk menghadiri acara kemanusiaan yang akan diadakan oleh Evey.

Disaat Evey meminta tolong temannya itu, lalu temannya langsung menjawab: "Ada uangnya ga?"
Sontak Evey langsung kaget dan berpikir, "Kenapa untuk mengundang wartawan saja harus menggunakan uang, bukankah wartawan itu harusnya independent ya?"

Lalu terjadilah percakapan seperti ini:

Evey: "Ga dibayarlah, wong ga ada dananya."
Teman Evey (T.E): "Yah susah kalo gitu, khan itu namanya titipan, jadi harus dibayarlah."
Evey: "Berapa bayarnya?"
T.E: "Yah 200 ato 250rb ajalah, buat ngebir2 aja."

Percakapan tersebut terjadi cukup lama dan teman Evey nampak sangat memaksa agar Evey mau membayar dua orang wartawan foto tersebut. Evey kebingungan dan akhirnya Evey bertanya kepada salah satu atasannya. Evey menceritakan masalah tersebut ke salah satu atasannya dan atasannya menjawab: "Gue heran sama wartawan, kok mereka kayak pengemis sih?"

Mendengar cerita Evey tersebut saya jadi bertanya-tanya, sebenarnya bagaimana sih sistem pers di Indonesia ini, apakah para penyelenggara acara harus membayar para wartawan jika mau mengundang agar acaranya dapat diliput oleh wartawan tersebut?

Jadi siapa sebenarnya yang membuat sistem pers kita menjadi kacau, apakah sang wartawan itu sendiri atau sang penyelenggara acara? Karena saya mendengar bahwa ada beberapa PR agency yang terkenal "royal" dengan para wartawan, sehingga para wartawan yang diundang oleh PR agency tersebut pasti mengharapkan bayaran atau yang dikenal dengan sebutan "jale". So, who to blame??