Di sore hari yang mendung ini tiba-tiba Evey bbm saya, seperti biasa dia misuh-misuh ke saya (hobi kok ya misuh-misuh yaak?? Binuunn!). Kali ini dia misuh-misuh karena kekasih hatinya..
Evey: Bete gwe punya pacar yang banyak fans-nya..
>> sedikit penjelasan bahwa kekasih hatinya Evey adalah seseorang penulis yang bisa dibilang cukup dikenal dan banyak pengikutnya, namun dia juga banyak musuhnya ternyata..Nama kekasih hati Evey adalah Hammond..<<
Terus saya menjawab Evey.. "Emang kenapa pacar lu?"
Evey: Sebel gue abis tiap gue mention si Hammy (panggilan sayang Evey untuk Hammond) di sosial media, dia ga pernah nge-respon, gue khan jadi merasa dicuekin.
Saya: Yaudah, elo bilang aja ke Hammy suruh mention balik ato apa gitu..
Evey: Udaaahhh...
Saya: Terus?
Evey: Terus dia bilang: "Sayang, ga boleh sering-sering PDA nanti musuh-musuh aku tau, trus kamu diincer"
Saya: Yaelaaahh..cape yee punya pacar yang banyak musuhnyaaa...
Sebenernya enak ga sih punya pacar yang eksis dan banyak fansnya? Kalo menurut saya sih kayaknya banyakan ga enaknya deh, karena bisa tiba-tiba melihat kata-kata centil dari para fans yang kadang bikin cemburu, terus suka ada yang muji-muji lebay, terus pacarannya jadi ga bisa vulgar karena ternyata orang yang banyak fans-nya juga banyak musuhnya looh, jangaan salaaahhh... Tapi semua itu tergantung individu masing-masing siihh.. So, is it good to have a famous boyfriend??
Terus saya bilang aja ke Evey "Makanya bilang pacar lu supaya jaga kelakuan biar ga banyak musuhnyaa!!!"
Thursday, May 31, 2012
Who to blame?
Saya sedang asik menonton TV bersama orang tua saya saat sahabat saya tercinta, Evey, menelpon saya dengan nada emosi. Evey menceritakan kepada saya hal yang baru saja dialaminya, hal yang kurang menyenangkan bagi dirinya.
Sebelumnya saya ingin bercerita sedikit dengan Evey. Evey adalah seorang humas yang bekerja disebuah agency yang melayani beberapa perusahaan yang cukup ternama.
Evey bercerita bahwa dia berencana untuk mengadakan acara yang berhubungan dengan kemanusiaan dan dia berencana untuk mengundang setidaknya dua wartawan foto untuk meliput acara tersebut.
Lalu Evey menghubungi teman sekantornya yang biasanya bertugas untuk mengundang para wartawan untuk menghadiri event yang diadakan oleh kantor Evey untuk beberapa perusahaan. Evey meminta temannya tersebut untuk mengundang dua orang wartawan foto untuk menghadiri acara kemanusiaan yang akan diadakan oleh Evey.
Disaat Evey meminta tolong temannya itu, lalu temannya langsung menjawab: "Ada uangnya ga?"
Sontak Evey langsung kaget dan berpikir, "Kenapa untuk mengundang wartawan saja harus menggunakan uang, bukankah wartawan itu harusnya independent ya?"
Lalu terjadilah percakapan seperti ini:
Evey: "Ga dibayarlah, wong ga ada dananya."
Teman Evey (T.E): "Yah susah kalo gitu, khan itu namanya titipan, jadi harus dibayarlah."
Evey: "Berapa bayarnya?"
T.E: "Yah 200 ato 250rb ajalah, buat ngebir2 aja."
Percakapan tersebut terjadi cukup lama dan teman Evey nampak sangat memaksa agar Evey mau membayar dua orang wartawan foto tersebut. Evey kebingungan dan akhirnya Evey bertanya kepada salah satu atasannya. Evey menceritakan masalah tersebut ke salah satu atasannya dan atasannya menjawab: "Gue heran sama wartawan, kok mereka kayak pengemis sih?"
Mendengar cerita Evey tersebut saya jadi bertanya-tanya, sebenarnya bagaimana sih sistem pers di Indonesia ini, apakah para penyelenggara acara harus membayar para wartawan jika mau mengundang agar acaranya dapat diliput oleh wartawan tersebut?
Jadi siapa sebenarnya yang membuat sistem pers kita menjadi kacau, apakah sang wartawan itu sendiri atau sang penyelenggara acara? Karena saya mendengar bahwa ada beberapa PR agency yang terkenal "royal" dengan para wartawan, sehingga para wartawan yang diundang oleh PR agency tersebut pasti mengharapkan bayaran atau yang dikenal dengan sebutan "jale". So, who to blame??
Sebelumnya saya ingin bercerita sedikit dengan Evey. Evey adalah seorang humas yang bekerja disebuah agency yang melayani beberapa perusahaan yang cukup ternama.
Evey bercerita bahwa dia berencana untuk mengadakan acara yang berhubungan dengan kemanusiaan dan dia berencana untuk mengundang setidaknya dua wartawan foto untuk meliput acara tersebut.
Lalu Evey menghubungi teman sekantornya yang biasanya bertugas untuk mengundang para wartawan untuk menghadiri event yang diadakan oleh kantor Evey untuk beberapa perusahaan. Evey meminta temannya tersebut untuk mengundang dua orang wartawan foto untuk menghadiri acara kemanusiaan yang akan diadakan oleh Evey.
Disaat Evey meminta tolong temannya itu, lalu temannya langsung menjawab: "Ada uangnya ga?"
Sontak Evey langsung kaget dan berpikir, "Kenapa untuk mengundang wartawan saja harus menggunakan uang, bukankah wartawan itu harusnya independent ya?"
Lalu terjadilah percakapan seperti ini:
Evey: "Ga dibayarlah, wong ga ada dananya."
Teman Evey (T.E): "Yah susah kalo gitu, khan itu namanya titipan, jadi harus dibayarlah."
Evey: "Berapa bayarnya?"
T.E: "Yah 200 ato 250rb ajalah, buat ngebir2 aja."
Percakapan tersebut terjadi cukup lama dan teman Evey nampak sangat memaksa agar Evey mau membayar dua orang wartawan foto tersebut. Evey kebingungan dan akhirnya Evey bertanya kepada salah satu atasannya. Evey menceritakan masalah tersebut ke salah satu atasannya dan atasannya menjawab: "Gue heran sama wartawan, kok mereka kayak pengemis sih?"
Mendengar cerita Evey tersebut saya jadi bertanya-tanya, sebenarnya bagaimana sih sistem pers di Indonesia ini, apakah para penyelenggara acara harus membayar para wartawan jika mau mengundang agar acaranya dapat diliput oleh wartawan tersebut?
Jadi siapa sebenarnya yang membuat sistem pers kita menjadi kacau, apakah sang wartawan itu sendiri atau sang penyelenggara acara? Karena saya mendengar bahwa ada beberapa PR agency yang terkenal "royal" dengan para wartawan, sehingga para wartawan yang diundang oleh PR agency tersebut pasti mengharapkan bayaran atau yang dikenal dengan sebutan "jale". So, who to blame??
Wednesday, May 30, 2012
Who they really are????
Duduk termangu di sebuah kafe sambil menatap ke sebuah acara yang sedang diselenggarakan oleh sebuah perusahaan besar. Datang sedikit demi sedikit orang mengenakan jeans dan kaos serta membawa tas ransel, ada beberapa orang yang datang membawa kamera dan handycam, dari gayanya menunjukkan bahwa mereka adalah para wartawan. Acara segera dimulai dan lama kelamaan semakin banyak para wartawan yang hadir.
Mereka nampak sibuk mengikuti acara tersebut,namun sebagian ada yang sambil mengetik dan sebagian ada yang sambil mengobrol dan makan.
Selang beberapa waktu kemudian setelah acara dimulai, nampak perhatian para wartawan beralih ke sebuah meja yang tadinya dijadikan meja registrasi untuk para wartawan tersebut. Mereka mengerebuti meja tersebut dan nampaknya mereka sedang memperebutkan sesuatu, entah apa. Tapi nampak dari kejauhan bahwa mereka sepertinya sedang memperebutkan sebuah goody bag yang dibagikan oleh panitia. Sempat berpikir, apakah kiranya isi goody bag tersebut, mengapa mereka begitu antusias sekali untuk mendapatkan goody bag tersebut sampai para panitia terlihat begitu kewalahan untuk melayani mereka?
Selidik punya selidik, ternyata isi goody bag tersebut hanyalah sebuah notes dan pulpen. Saya semakin heran dengan kelakuan mereka, saya mengira isi dari goody bag tersebut adalah sesuatu yang sangat berharga sehingga sangat layak untuk diperebutkan. Saya tidak mengatakan bahwa notes dan pulpen itu tidak berharga, namun melihat dari cara mereka berebutan, seakan-akan mereka sedang memperebutkan sembako atau bahkan uang senilai jutaan rupiah..
Setelah acara selesai saya beranjak dari tempat duduk saya dan berjalan mendekati tempat acara tersebut, sesaat saya melewati kerumunan orang. Ternyata para wartawan tersebut sedang mengerumuni seorang wanita yang mengenakan pakaian bertuliskan "panitia". Lalu saya semakin tertarik untuk mendekati kerumunan tersebut. Ternyata para wartawan tersebut sedang meminta "amplop" dari wanita tersebut, saya mendengar wanita itu berkata bahwa pihaknya tidak menyediakan "amplop" untuk para wartawan, namun nampaknya para wartawan itu tidak percaya terhadap wanita itu sehingga mereka terus-terusaan mengejar wanita tersebut, dan saya mendengar ada salah seorang wartawan yang mengatakan "kalau bohong dosa looh mba" kepada wanita itu. Lalu wanita itu berkata "iya ibu, saya paham kalau bohong itu dosa". Lalu akhirnya bubarlah kerumunan itu.
Karena rasa penasara saya akhirnya saya sempatkan untuk mengajak ngobrol wanita itu dan menanyakan ada apa sebenarnya terjaadi, lalu wanita itu menjelaskan kejadiannya kepada saya. Wanita itu mengatakan bahwa sebagian dari wartawan yang hadir adalah wartawan tanpa surat kabar atau lebih dikenal dengan sebutan "wartawan bodrex", yang tujuan utamanya menghadiri sebuah acara adalah untuk mendapatkan uang dari si penyelenggara acara.
Saya jadi berpikir dan penasaran, apa pekerjaan mereka sebenarnya? Apa yang mereka lakukan disaat mereka tidak mendapatkan uang dari sebuah acara atau tidak ada acara yang sedang dilaksanakan pada hari itu? Who they really are???
Mereka nampak sibuk mengikuti acara tersebut,namun sebagian ada yang sambil mengetik dan sebagian ada yang sambil mengobrol dan makan.
Selang beberapa waktu kemudian setelah acara dimulai, nampak perhatian para wartawan beralih ke sebuah meja yang tadinya dijadikan meja registrasi untuk para wartawan tersebut. Mereka mengerebuti meja tersebut dan nampaknya mereka sedang memperebutkan sesuatu, entah apa. Tapi nampak dari kejauhan bahwa mereka sepertinya sedang memperebutkan sebuah goody bag yang dibagikan oleh panitia. Sempat berpikir, apakah kiranya isi goody bag tersebut, mengapa mereka begitu antusias sekali untuk mendapatkan goody bag tersebut sampai para panitia terlihat begitu kewalahan untuk melayani mereka?
Selidik punya selidik, ternyata isi goody bag tersebut hanyalah sebuah notes dan pulpen. Saya semakin heran dengan kelakuan mereka, saya mengira isi dari goody bag tersebut adalah sesuatu yang sangat berharga sehingga sangat layak untuk diperebutkan. Saya tidak mengatakan bahwa notes dan pulpen itu tidak berharga, namun melihat dari cara mereka berebutan, seakan-akan mereka sedang memperebutkan sembako atau bahkan uang senilai jutaan rupiah..
Setelah acara selesai saya beranjak dari tempat duduk saya dan berjalan mendekati tempat acara tersebut, sesaat saya melewati kerumunan orang. Ternyata para wartawan tersebut sedang mengerumuni seorang wanita yang mengenakan pakaian bertuliskan "panitia". Lalu saya semakin tertarik untuk mendekati kerumunan tersebut. Ternyata para wartawan tersebut sedang meminta "amplop" dari wanita tersebut, saya mendengar wanita itu berkata bahwa pihaknya tidak menyediakan "amplop" untuk para wartawan, namun nampaknya para wartawan itu tidak percaya terhadap wanita itu sehingga mereka terus-terusaan mengejar wanita tersebut, dan saya mendengar ada salah seorang wartawan yang mengatakan "kalau bohong dosa looh mba" kepada wanita itu. Lalu wanita itu berkata "iya ibu, saya paham kalau bohong itu dosa". Lalu akhirnya bubarlah kerumunan itu.
Karena rasa penasara saya akhirnya saya sempatkan untuk mengajak ngobrol wanita itu dan menanyakan ada apa sebenarnya terjaadi, lalu wanita itu menjelaskan kejadiannya kepada saya. Wanita itu mengatakan bahwa sebagian dari wartawan yang hadir adalah wartawan tanpa surat kabar atau lebih dikenal dengan sebutan "wartawan bodrex", yang tujuan utamanya menghadiri sebuah acara adalah untuk mendapatkan uang dari si penyelenggara acara.
Saya jadi berpikir dan penasaran, apa pekerjaan mereka sebenarnya? Apa yang mereka lakukan disaat mereka tidak mendapatkan uang dari sebuah acara atau tidak ada acara yang sedang dilaksanakan pada hari itu? Who they really are???
Subscribe to:
Comments (Atom)





